Identifikasi Strategi Komunikasi Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja dalam Mencegah Self-Diagnosis dan Menguatkan Akses Bantuan ke Profesional
Abstrak
Self-diagnosis kesehatan mental melalui media digital semakin marak di kalangan pekerja, sementara organisasi kerja di Indonesia masih menerapkan komunikasi kesehatan mental yang parsial dan episodik sehingga belum optimal mencegahnya. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi komunikasi kesehatan mental di lingkungan kerja untuk mencegah self-diagnosis dan memperkuat akses bantuan profesional. Menggunakan desain mixed methods sequential exploratory, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan dua pimpinan unit BPJS Ketenagakerjaan Gorontalo serta kuesioner daring pada 26 pekerja gabungan, dianalisis dengan model interaktif Miles-Huberman dan statistik deskriptif. Hasil menunjukkan kecenderungan self-diagnosis sedang-tinggi (M=3,54), komunikasi kesehatan mental kantor yang insidental (M=3,38), serta stigma tersamar yang berdampingan dengan penerimaan eksplisit tinggi terhadap rekan kerja terbuka. Triangulasi menegaskan hambatan struktural dan kultural saling terkait dalam menghambat pencarian bantuan. Temuan ini mendasari rumusan lima pilar strategi komunikasi kesehatan mental berbasis organisasi yang terstruktur, partisipatif, dan berorientasi keamanan psikologis pekerja, sebagai kontribusi bagi pengembangan kebijakan kesehatan mental di tempat kerja pada konteks Indonesia.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis yang menerbitkan jurnal ini menyetujui persyaratan berikut:
- Penulis memegang hak cipta dan memberikan hak jurnal untuk publikasi pertama dengan karya yang dilisensikan secara bersamaan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 yang memungkinkan orang lain untuk berbagi karya dengan pengakuan atas kepenulisan dan publikasi awal karya dalam jurnal ini.
- Jurnal memungkinkan penulis untuk memegang hak cipta tanpa batasan dan mengizinkan penulis untuk mempertahankan hak penerbitan tanpa batasan.
- Penulis dapat membuat pengaturan kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif dari versi jurnal yang diterbitkan dari karya tersebut (misalnya, mempostingnya ke penyimpanan institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan atas publikasi awalnya di jurnal ini .
- Penulis diizinkan dan didorong untuk memposting karya mereka secara online (misalnya, di repositori institusional atau di situs web mereka) sebelum dan selama proses pengiriman, karena hal itu dapat mengarah pada pertukaran yang produktif, serta kutipan yang lebih awal dan lebih besar dari karya yang diterbitkan.